RESENSI BUKU : TIDUNG

  • Posted on: 5 April 2016
  • By: stpjakarta

RESENSI BUKU

 

Judul Buku : Tidung

Pengarang : Syarif Syamsuddin

Editor         : Maria Goreti E.K.

Penerbit      : STP Press

Tahun Terbit, Cet.    : 2015, pertama

Tebal buku  :           190 halaman

Harga         :           -

 

 

Pustakawan hendak mengambil pendapat Lamudin Finosa (2005) bahwa mengarang adalah pekerjaan merangkai kata, kalimat dan alinea untuk menjabarkan dan atau mengulas topik dan tema tertentu guna memperoleh hasil akhir berupa karangan. Karena karangan tertulis juga disebut tulisan, kemudian timbul sebutan penulis untuk orang yang menuliskannya. Kegiatan mengarang atau menulis bukan pekerjaan mudah, maka setiap hasil karangan atau tulisan perlu diapresiasi dengan baik. Seperti halnya berkomunikasi, kegiatan mengarang yang juga menggunakan bahasa sebagai medianya harus berlangsung secara lisan. Seseorang yang berbicara, misalnya dalam sebuah diskusi atau berpidato secara serta merta (impromptu), otaknya harus terlebih dahulu mengarang sebelum mulutnya berbicara/menulis, sang pembicara atau sang penulis itu sebetulnya “bekerja keras” mengorganisasikan isi pembicaraannya atau tulisannya agar teratur, terarah/ terfokus, sambil memikir-mikirkan susunan kata, pilihan kata, struktur kalimat; bahkan cara penyajiannya. Karena tujuan penguraian ini adalah mengenai karangan tertulis, maka pustakawan hendak mengapresiasi hasil karya berjudul ‘Tidung’ yang ditulis oleh Syarif Syamsudin dan dieditori serta dikreasikan oleh Maria Goreti Eny Kristiani. Buku ini diterbitkan oleh STP Press Jakarta pada November 2015. Tidung adalah karangan kisah tentang perwatakan Bond dan rekan-rekan sekerjanya di STP Jakarta yang berangkat ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu untuk mengikuti kegiatan Penggalangan Jiwa Korsa atau disingkat PJK, semacam upaya penyelarasan gerak dan langkah dalam bekerja sehingga pekerjaan dapat dilakukan secara harmonis, selaras dan kompak dengan azas profesionalisme dan kekerabatan yang tinggi. Buku ini adalah hasil karya penulis setelah penggalangan jiwa korsa dan sangat terasa keakrabannya. Penulis pastinya memerlukan kepercayaan diri untuk menerbitkannya sehingga dapat dibaca oleh banyak orang.

Karya Tidung sebagaimana dieditori oleh Maria Goreti Eny Kristiany ini cenderung berbentuk narasi yang berisi kisah. Kisah dalam buku ini didominasi dengan narasi sesungguhnya, sehingga pembaca dapat merasakan terlibat langsung dalam sebuah pembicaraan atau situasi. Karangan setebal 190 halaman dalam bentuk buku ini, merupakan karangan yang narasinya didominasi karakter atau perwatakan pegawai STP Jakarta, utamanya adalah perwatakan Bond sebagai tokoh menonjol yang selalu ada dalam bagian-bagian kisah, dimana dalam buku ini terdiri dari enam bagian. Bagian pertama diberi judul Canda; bagian Kedua, Bermain; bagian Ketiga, Matahari; bagian keempat, berjudul Malam Renungan dan bagian kelima adalah “Goser” Yang Menguras Kantong dan Keenamnya adalah Pulang Yang Memabukkan. Keenam bagiannya menunjukkan rangkaian frase atau kalimat yang mengakrabi pembaca dengan kejadian dalam kegiatan Jiwa Korsa.

Perwatakan dalam karya Tidung, diantaranya dapat kita lihat pada halaman 4-5. Di kisahkan dalam paragraf-paragraf pendek yang sederhana sebagai berikut:

“Bond, demikian panggilan akrab untuk Pak Syarif dikenal usil dan sering berulah yang menjengkelkan. Kebanyakan korbannya adalah ibu-ibu.  Bagi yang mengenal kesehariannya, Bond bukanlah tipe yang usil atau menjengkelkan. Namun karakternya yang sering mencuatkan ide-ide spontan yang lucu dan menarik perhatian serta keingintahuannya yang tinggi, tidak semuanya membuat senang mereka. Namun kehadirannya sering kali dirindukan pada moment-moment tertentu untuk meramaikan suasana.

Dalam jarak yang lebih dekat siluet tubuh tinggi itu telah bersuara dengan keras menyapa sekumpulan ibu-ibu yang sedang ngobrol berkumpul, tanpa menghiraukan kecemasan mereka.”

 

Perwatakan Bond dan perwatakan lainnya disandingkan dalam sebuah interaksi yang bersahabat, dapat kita simak pada halaman 22 dan 23.

                        “Di sisi yang lain, Pak Nyoman selaku ketua STP bergerak dengan langkah cepat dan tegas menuju kumpulan peserta yang sedang bergerak masuk ke dalam bis. Beberapa orang yang jaraknya terdekat menyambutnya dengan ucapan salam dan menjabat tangannya. “Selamat pagi pak, semua telah siap bergerak menuju Marina, Ancol “sambut Bond melaporkan kondisi kesiapan peserta. Senyum kagum Bond akan sosok Pak Nyoman tersungging. Pak Nyoman selalu memperhatikan potongan dan jenis pakaian yang dikenakan sesuai event yang diikutinya. Penampilannya selalu rapih dan charming, menuntut setiap orang yang tahu keberadaannya akan berpaling melihatnya. Kali ini Pak Nyoman menggunakan celana jeans berwarna krem muda dan kaos putih berkerah lengkap dengan kacamata yang menggantung tepat dibelahan kancing kaosnya. Dilengkapi dengan topi safari yang simpel dengan warna senada celana jeans, membuat penampilannya terlihat muda dan enerjik.

“Ya, kita langsung berangkat saja”, kata Pak Nyoman dengan senyumnya yang khas sembari melihat jam tangannya, jarum jam telah menunjukkan waktu lebih 15 menit dari rencana keberangkatan semula. Gurat lelah tak tampak sedikitpun pada raut wajahnya pagi ini. Meski baru saja tiba dari tugas yang membutuhkan energi dan stamina tinggi dengan menempuh perjalanan melalui penerbangan yang pasti sangat melelahkan.

Jauh hari sebelumnya Pak Nyoman telah menyatakan akan berusaha ikut dalam kegiatan Jiwa Korsa STP periode 1 sebagai upaya pemacu semangat para karyawan, memberikan kesempatan di tengah kesibukan pekerjaan yang ada.

 

…Tak pelak lagi, keusilan Bond seolah tak bisa dibendung. Sikap jaimnya untuk menjaga kesopanan di hadapan Pak Nyoman terhempas sudah. Bond pun berdiri menghadap ke penumpang. Berbagai cerita dan celetukan konyol mulai mengalir….

 

Demikian bagian pertama buku ini memiliki alur yang berpusat pada perwatakan Bond. Sebagaimana bagian pertama, bagian kedua yang berkisah tentang Matahari, juga menyebut perwatakan Bond. Pula pada bagian ketiganya, keempat hingga keenam bagian buku ini merupakan kisah yang terjadi di Pulau Tidung dengan kerangka narasi perwatakan Bond. Penulis juga mengemukakannya pada sampul buku ini ‘Bond 007’. Hal ini merupakan penegasan bahwa penulis mengutamakan perwatakan ‘Bond 007’ dalam buku ini. Perwatakan lainnya muncul sebagai penyerta kisah, namun bukan sosok yang ditonjolkan dalam karya ini, walaupun disebutkan terlibat dalam percakapan-percakapan dalam bagian-bagian kisah.

 

Membandingkan karya-karya novel populer lainnya, gambar sosok yang tertera dalam sampul buku ini, memiliki kemiripan dengan karya yang dibuat oleh Andrea Hirata berjudul Maryamah Karpov. Pustakawan ingin memberikan sedikit pengetahuan pada pembaca, bahwa penulis novel populer, Andrea Hirata menghasilkan karya pertama berjudul Laskar Pelangi. Laskar Pelangi merupakan buku pertama dari tetralogi Laskar Pelangi. Buku berikutnya adalah Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Buku ini tercatat sebagai buku sastra Indonesia terlaris sepanjang sejarah. Andrea pula menjadikan ‘Ikal’ sebagai inisial tokoh perwatakan utama, namun menjadikan gambar sampul seorang wanita dalam karyanya berjudul Maryamah Karpov. Dalam novel tetralogi Laskar Pelangi, Maryamah Karpov lebih menggambarkan sosok wanita yang dikenal Ikal dalam budaya etnis Tionghoa, yaitu wanita yang berhati lembut, berparas elok, berkulit kuning, pandai memainkan alat musik petik dan merupakan pembanding antara kecantikan wanita timur dengan barat. Secara tegas menyebutkan bahwa sosok itu adalah temannya sendiri sewaktu kecil. Karya tersebut mengisahkan temannya tersebut dalam seluruh fase kisah dan perwatakan Ikal. Yang pasti, Andrea Hirata telah menyertakan Maryamah Karpov sebagai sebutan sosok wanita idaman ‘Ikal’, menjadikan judul dalam karyanya dan menjadikan gambar sampul sosok wanita tersebut.

 

Syarif Syamsuddin sebagai penulis buku ini, menjadikan sosok wanita dalam sampul buku ini, sayangnya tidak benar-benar mengangkat kisah sosok wanita yang ada disampul tersebut. Penulis memilih Tidung sebagai judul karyanya. Sosok wanita pada sampul tersebut belum memberi kesan khusus memiliki kesesuaian dalam penentuan topik dan tema sebagaimana novel populer. Juga Tidung sebagai judul karya ini, tidak sepenuhnya mencerminkan keseluruhan kisah dalam buku ini. Meminjam pendapat Lamudin Finnosa (2005), ahli Bahasa Indonesia Universitas Indonesia, untuk membuat suatu karya karangan, seorang penulis perlu memperhatikan penentuan topik dan tema, sehingga ada kesesuaian antara topik dan tema. Kalimat Judul yang munculpun akan sesuai dengan topik dan tema yang dibahas. Tidung sebagai judul dalam karya ini, merupakan objek yang nyata dalam kisah ini sebagai tempat tujuan penggalangan jiwa korsa Dosen STP Jakarta. Sayangnya Tidung sebagai judul yang mengemuka bukan bahasan utama yang ingin disampaikan penulis, agar pembaca tertarik membaca karyanya.

 

Namun demikian, karya ini merupakan karangan kisah dengan narasi cerita yang mengalir. Lebih tepat sebagai apresiasi atas keikutsertaan dosen-dosen Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta dalam kegiatan penggalangan jiwa korsa ke Pulau Tidung.  Selayaknya dimiliki sebagai album kenangan para peserta kegiatan dan belum dapat dibahas secara terbuka bahasa tuturnya. Perpustakaan STP Jakarta perlu mendokumentasikannya sebagai karya perseorangan yang unik, dan diharapkan dapat mendokumentasikan karya-karya perseorangan lainnya yang memiliki tema khusus serupa bagi perkembangan lembaga induknya, Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta.

 

(Resensator:  Widya Indarti, Pustakawan STP Jakarta).

 

Daftar Pustaka

Lamudin Finnosa, “Komposisi Bahasa Indonesia Untuk Mahasiswa Non Jurusan Bahasa”, Jakarta: Dikti, 2004

https://id.wikipedia.org/wiki/Laskar_Pelangi