RESENSI BUNGA RAMPAI UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI : SEBUAH INISIATIF

  • Posted on: 4 November 2015
  • By: BPSDMKP

Pada bulan September 2013 lalu, Penerbit buku Imania menerbitkan sebuah bunga rampai yang ditulis seorang birokrat unik Soen’an Hadi Poernomo. Bunga rampai tersebut berjudul “Berani Korupsi Itu Memalukan” . Sebagaimana sebuah bunga rampai, serupa karya satra lainnya di dalamnya berisi kumpulan-kumpulan karya Soen’an. Karya sastra dalam bentuk bunga rampai diakui membutuhkan kedalaman filosofis, analisis empiris dan historis. Kompleksitas isu-isu kelautan  berupa trilogi, opini dan puisi diungkapkan penulis dalam buku ini sebagai birokrat yang pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan serta kepala Pusat Data Statistik dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan.

 

Penulis yang dikenal aktif dalam berbagai organisasi, antara lain mendirikan Koperasi “Pecel Lele”, Pendiri Forum Silaturahmi Pesantren Bahari, Sekretaris Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara, Wakil Ketua Saka Bahari Nasional, Gerakan Pramuka, dan lain-lain. Dikenali sebagai penulis yang aktif menulis di media massa dan dikenal sebagai salah satu pakar kelautan di Indonesia. Latar belakang penulis memberikan integritas bunga rampai tersebut memiliki ulasan yang gamblang dan mendalam. Kumpulan opini penulis dianggap dapat menjadi rujukan penting tentang permasalahan kelautan dan perikanan di negeri ini. Selain direkomendasikan sebagai rujukan, dengan menyimaknya kita akan merasakan betapa buku ini dapat membuka cakrawala dan kesadaran kolektif akan kebangkitan Indonesia sebagai bangsa bahari, demikian yang diutarakan Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Ketua MPR RI.

 

Trilogi penulisan yang disampaikan dalam buku ini, mengutarakan filosofi, masalah dan solusi negeri kelautan dan upaya pemberantasan korupsi. Bahasan korupsi yang diungkapkan berbagai pihak secara kritis disebabkan karena korupsi itu telah merambah ke segala lini, sehingga dianggap sebagai kejahatan luar biasa.   Harapan penulis bahwa tulisan dalam buku ini turut serta memberikan manfaat dalam berwacana, menggagas, mengkritisi hal-hal yang terkait dengan kelautan dan pemberantasan korupsi. Penulis menyadari dan berharap hendaknya segala kekurangan yang di tuduhkan akan menjadi masa lalu. Diharapkan pula akan lahir pemimpin-pemimpin yang jujur dan berjiwa mulia dari bangsa yang di kenali sebagai bangsa bahari ini.

 

Trilogi juga diungkapkan dalam tiap-tiap bab dalam buku setebal 393 halaman ini. Bagian pertama dalam buku ini berisi opini, yaitu opini kelautan dan perikanan, opini korupsi dan opini kehidupan. Opini penulis kaya akan data, sebagaimana opininya mengenai dimensi ekonomi tentang negara ini, sebagaimana dikutip dari halaman 10, sebagai berikut,

“Oleh karenanya, kebijakan nasional yang diterapkan harus menunjukkan adanya keberpihakan negara atau affirmative action bagi masyarakat di pulau-pulau Nusantara. Karena negara dengan 13.446 pulau ini merupakan realitas yang unik, maka kebijakan, program dan kegiatan yang harus dilakukan harus bersifat luar biasa atau extra ordinary effort. Data BPS tahun 2010 menunjukkan, dari 10.639 desa pesisir, terdapat 7.879.458 rumah tangga miskin (ini berarti setara dengan 13,55% angka nasional), termasuk diantaranya 2.132.152 rumah tangga nelayan.”

 

Kekuatan data juga penulis ungkapkan di halaman 31, sebagai mana opininya mengenai peluang ekonomi sebagai berikut:

 

“Panjang pantai 95.181 km (bahkan menurut Bakosurtanal sekitar 104.000 km) tentu menjanjikan peluang usaha budidaya perikanan yang sangat besar. Kegiatan akuakultur ini dapat menjadi mata pencaharian yang menjanjikan kesejahteraan bagi bangsa. Potensi budidaya laut seluas 12.545.072 ha, baru dimanfaatkan 117.649,30 ha. Begitu juga budidaya perikanan di air payau yang berpotensi 2.963.717 ha, baru dimanfaatkan sekitar 682.857 ha.”

 

Kekuatan data dalam opini penulis senantiasa disandingkan dengan analisis terkait bidang kelautan dan perikanan yang digelutinya. Tak lupa kalimat-kalimat pertanyaan yang diutarakan dalam opini tersebut membuat kita yang menyimak tak urung untuk turut memikirkannya. Sebagaimana pada bab pertama, salah satu tulisan opininya diberi judul “Impor Ikan, Ancaman atau Tantangan?”, dapat kita simak di halaman 112.

 

Dalam memaparkan analisis, tak lupa pemikiran filosofis penulis bermain, dan pesan moral dalam pepatah-pepatah populer dunia mengalir sebagai pesan moral. Terasa sangat kuat maknanya, karena merupakan pengalaman pribadi beliau sebelum dan selama menjadi birokrat negara ini. Beliau juga ternyata sangat mengenali pepatah para ilmuwan dan negarawan saat bagaimana mereka berinteraksi dengan orang-orang yang merupakan masyarakat awam, katanya, It is nice to be important people, but it is important to be nice people.

 

Bagian kedua buku ini mengetengahkan tentang surat pembaca, salah satunya berjudul “Menunggu Gerakan Anti Korupsi”. Di dalamnya membahas tentang gerakan anti korupsi yang segenap pihak harus bergerak serempak melakukan berbagai extra ordinary action, dalam satu gerakan yang paling tidak memiliki lima agenda berikut ini, yaitu:

Pertama, perubahan sistem politik berbiaya tinggi

Kedua, penerapan hukum yang membuat jera

Ketiga, penaikan gaji pegawai negeri

Keempat, sentuhan aspek moral

Kelima, kampanye

 

Bagian ketiga buku ini berisi kumpulan puisi, yang terdiri dari puisi kelautan dan perikanan, puisi korupsi dan puisi kehidupan. Kumpulan puisi ini telah menutup rangkuman segenap pengalaman pribadi penulis mengenai kelautan dan perikanan dan inisiatifnya terhadap kejahatan luar biasa yang bernama ‘korupsi’.

Bunga rampai ini menarik untuk disimak dan penting dimiliki perpustakaan bidang kelautan dan perikanan. Buku ini merupakan hasil karya kesusastraan yang memberikan pencerahan dan motivasi bagi pembacanya, guna mewujudkan ‘negeri kelautan’, yakni negara yang terunggul di dunia dalam memanfaatkan potensi lautnya.

 

(Widya Indarti, Pustakawan Pertama Sekretariat BPSDM KP).

 

Tags: 
Perpustakaan: