Membangun Laut Membangun Manusia

  • Posted on: 27 August 2015
  • By: BPSDMKP

Kementerian Kelautan dan Perikanan akan fokus membangun sektor kelautan dan perikanan guna meningkatkan pendapatan perekonomian nasional. Untuk itu, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dalam menggarap sektor tersebut.

Diketahui, Indonesia merupakan negara kepulauan dan negara maritim terbesar di dunia. Jumlah yang ada saat ini mencapai kurang lebih 17.504 pulau dan luas laut mencapai 2/3 luas wilayahnya. 

Selain itu, panjang pantai Indonesia juga terbesar kedua di dunia mencapai 95.181 km, dan letaknya sangat strategis di antara dua benua dan dua samudera. Dengan potensi ini, lembaga studi ternama Mc Kinsey Global Institute, dalam laporannya “The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential” menyebutkan, sektor perikanan merupakan salah satu sektor utama (di samping sektor jasa, pertanian, dan sumber daya alam) yang akan menghantarkan Indonesia sebagai negara yang maju perekonomiannya pada 2030. 

“Pada tahun tersebut, ekonomi Indonesia akan menempati posisi ketujuh ekonomi dunia, dengan mengalahkan Jerman dan Inggris,” kata Kepala BPSDMKP Suseno Sukoyono pada acara bedah buku “Membangun Laut, Membangun Manusia,” di Jakarta, Senin (13/7).

Berangkat dari fakta di atas lanjut Suseno, maka pembangunan kelautan dan perikanan memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung keberhasilan pembangunan nasional. Dengan potensi demikian, seharusnya Indonesia mampu menjadi negara maju dan menguasai pasar perikanan dunia.

Namun demikian kata Suseno, fakta yang terjadi di lapangan saat ini tidak sesuai dengan yang diharapkan. Potensi yang ada belum dikelola secara optimal. Salah satu permasalahannya adalah faktor sumber daya manusia (SDM). 

Untuk itulah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan terus-menerus mendorong peningkatkan kapasitas SDM kelautan dan perikanan. 

Menurutnya, saat ini terbangun stigma nelayan dan komunitas masyarakat pesisir sebagai golongan bawah atau masuk dalam kategori miskin masih melekat. Ada suatu kebiasaan yang masih terjadi dan dilakukan oleh masyarakat nelayan adalah menghabiskan keuntungan hasil tangkapan secara cepat. 

“Karena pola pikir yang mereka gunakan masih terpaku pada pola pikir tradisional. Mereka menganggap masih banyak ikan yang bisa ditangkap di laut, meski kenyataannya persediaan ikan di laut sangat terbatas,” katanya.

Dia menjelaskan, ada empat hal yang perlu mendapatkan perhatian untuk membangun kelautan dan perikanan ke depan, yaitu keberlanjutan sumberdaya alam yang ada di laut, khususnya sumberdaya ikan, dukungan SDM andal, infrastruktur, dan sistem kelembagaan. Dari keempat hal tersebut, keberadaan SDM unggul menjadi kunci utama keberhasilan pembangunan kelautan dan perikanan.

Dengan demikian, sudah saatnya Indonesia memiliki grand design pembangunan kelautan dan perikanan yang berpihak pada pengembangan SDM Indonesia di masa yang akan datang. Indonesia akan lebih maju kalau didukung oleh SDM yang baik dan bertanggungjawab. 

Selain itu juga perlu terus dikembangkan wirausaha-wirausaha baru berbasis sumberdaya kelautan dan perikanan. Hal ini dimaksudkan guna mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumberdaya tersebut untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Banyak potensi bisnis di sektor kelautan dan perikanan yang dapat dikembangkan secara baik.

Berdasarkan hal tersebut, lanjutnya, pembangunan kelautan dan perikanan lima tahun ke depan akan lebih efektif dimulai dengan terus mengembangkan kualitas dan kuantitas SDM kelautan dan perikanan. Tanpa adanya upaya pengembangan SDM tersebut, visi Kabinet Kerja pemerintahan Jokowi-JK untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia dikhawatirkan kurang optimal dan mengalami kondisi yang sama dengan pembangunan kelautan dan perikanan tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, diperlukan keberpihakan dalam pembangunan SDM tersebut. 

Perpustakaan: